Negeri di Ujung Doa

Negeri di Ujung Doa

Di bawah langit yang pernah biru oleh harapan,
tanah ini kini berjalan terseok dalam kesunyian.
Ibu pertiwi menatap jalan-jalan berdebu,
sementara tangis rakyat larut bersama waktu.

Sawah-sawah tak lagi bernyanyi,
laut kehilangan riak yang menari.
Di sudut kota yang gemerlap cahaya,
masih ada perut-perut yang akrab dengan nestapa.

Wahai pemegang takhta negeri,
apakah suara kami masih sempat kau dengari?
Atau telah tenggelam oleh riuh tepuk tangan,
dan janji-janji yang gugur sebelum ditepati zaman?

Anak-anak menadah mimpi di bawah atap bocor,
mencari masa depan di antara kabar yang kian memudar.
Pemuda berjalan dengan mata penuh tanya,
tentang negeri yang dahulu diagungkan dunia.

Kami melihat gedung tumbuh menjulang,
namun keadilan justru terasa menghilang.
Hukum seperti angin: tajam pada yang lemah,
namun lembut saat menyentuh mereka yang berkuasa megah.

Tanah ini terlalu kaya untuk rakyat yang terus meminta,
terlalu subur untuk hati yang dipenuhi luka.
Namun mengapa lapar masih akrab di meja makan,
dan air mata lebih sering turun daripada hujan?

Wahai presiden, teguran ini lahir bukan dari kebencian.
Ia tumbuh dari cinta yang nyaris patah,
dari kesetiaan rakyat yang mulai lelah.

Kami tidak ingin negeri ini runtuh oleh keserakahan,
atau tenggelam dalam sunyi ketidakpedulian.
Sebab Indonesia bukan sekadar nama di peta,
ia adalah doa panjang para leluhur,
yang kini menunggu untuk kembali dijaga.

Bila suatu hari angin membawa pesan kami,
dengarkanlah: rakyat hanya ingin dipeluk oleh keadilan,
dan hidup tanpa takut kehilangan harapan.

Karena negeri ini terlalu indah untuk dikhianati,
dan terlalu suci untuk dilupakan oleh pemimpinnya sendiri.

Bidang Organisasi 25-26
PK IMM Ahmad Dahlan