Mengulas kembali Arah Gerak dan Ruh Pergerakan IMM : Dasar Kualitas Kader, Ruang Perjuangan, dan Arah Gerak yang Berdampak

Mengulas kembali Arah Gerak dan Ruh Pergerakan IMM : Dasar Kualitas Kader, Ruang Perjuangan, dan Arah Gerak yang Berdampak

Darul Arqom Dasar (DAD) merupakan jenjang perkaderan formal tingkat pertama dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang bertujuan untuk membentuk ideologi, karakter, dan komitmen individu kader, pemahaman trilogi dan trikoda tentunya mejadi pilar utama dalam mencetak kader-kader yang mutu dan berkualitas sehingga perjuangan yang kita lakukan tidak menyimpang dan tetap berada dalam arah gerak IMM  yang berpusat pada Trilogi dan Trikoda.

Trilogi dan trikoda Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan hanya sekadar jargon ideologis, melainkan fondasi utama yang menentukan kualitas individu kader. Trilogi IMM (Keagamaan, Kemahasiswaan, dan kemasyarakan), mengarahkan seluruh kader IMM harus memiliki keseimbangan antara spiiritualitas, intelektualitas, dan humanitas, yaitu keberpihakan sosial. Sementara itu Trikoda IMM (Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas) menjadi orientasi nilai yang membentuk karakter individu kader. Namun dalam praktiknya, justru kedua konsep ini sering kali berhenti (karena persoalan hafalan), bukan dari latar belakang pemahaman organik dan mendalam.

Seringkali kita melihat banyaknya fenomena kader-kader IMM di ranah komisariat (akar rumput), yaitu lemahnya terkait pemahaman Trilogi dan Trikoda itu sendiri, bahkan setelah mengikuti perkaderan dasar (DAD). Fenomena ini menunjukkan adanya suatu problematika yang dialami oleh dapur komisariat (Bidang Kader), mungkin salah satunya adalah metode perkaderan. Banyak kader yang mampu menyebutkan terkait konsep, namun kesulitan dalam mengaitkannya dengan realitas sosial. Hal ini menandakan bahwa, dalam proses internalisasi nilai belum berjalan efektif.

“Perkaderan yang berhasil bukan hanya membuat kader menjadi tahu, tetapi membuat kader itu mampu berpikir dan bertindak berdasarkan nilai”

Ranah Komisariat seharusnya menjadi laboratorium ideologi, bukan hanya sekadar ruang administratif.

Tatanan Komisariat (akar rumput) sebagai  gerakan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) justru sering kehilangan ruh ideologisnya. Ruang-ruang diskusi yang seharusnya menjadi wadah bersama untuk mengembangkan (intelektual), memperkaya cara pandang dari berbagai sudut pemikiran, justru berubah menjadi ruang diskusi yang bersifat formalitas, bahkan terkadang tidak menyentuh isu-isu strategis yang relevan dengan Trilogi dan Trikoda. Akibatnya, kader tidak terlatih untuk menghubungkan teori dengan praktik sosial.

Religiusitas yang tidak melahirkan kepedulian sosial hanya akan menjadi formalitas spiritual.

Dalam aspek keagamaan, masih banyak kader IMM yang memahami religiusitas hanya sebatas ritual, belum sampai pada kesadaran transformatif. Padahal dalam konteks Trilogi, nilai keagamaan harus mampu melahirkan keberpihakan terhadap keadilan sosial. Kader IMM dituntut untuk sadar dan peka terhadap persoalan yang ada di masyarakat dan mampu menghadirkan kontribusi nyata.

Tanpa Intelektualitas yang kuat, gerakan hanya akan menjadi reaktif, bukan solutif.

            Dimensi intelektualitas menghadapi tantangan yang serius. Ilmu pengetahuan yang seharusnya melahirkan kader-kader yang berani dan mampu menjadi solusi lewat gagasan-gagasan kritis, tetapi dalam realita yang ada justru budaya membaca dan menulis di kalangan kader masih lemah, sehingga gagasan yang lahir seringkali dangkal dan tidak berbasis analisis yang kuat. Ini bertentangan dengan semangat kemahasiswaan dalam Trilogi. Lebih jauh lagi, perkembangan era digital ini justru memperparah kondisi ini. Arus informasi yang begitu cepat membuat banyak kader lebih terbiasa mengonsumsi informasi instan daripada mendalami pengetahuan secara komprehensif. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk berpendapat tanpa dasar yang kuat, bahkan sekadar mengikuti opini yang sedang populer tanpa proses verifikasi dan kajian yang matang.

Selain itu, ruang-ruang diskusi yang seharusnya menjadi wadah penguatan intelektualitas seringkali belum dimaksimalkan. Diskusi hanya menjadi formalitas tanpa arah yang jelas, minim literatur, dan kurang mendorong kader untuk berpikir mendalam. Padahal, tradisi intelektual tidak bisa tumbuh tanpa adanya budaya dialog, perdebatan sehat, dan kebiasaan menguji gagasan secara kritis.

Humanitas tidak diukur dari seberapa aktif di organisasi, tetapi dari seberapa besar dampak bagi masyarakat.

Pada sisi humanitas, kader IMM diharapkan mampu hadir di tengah masyarakat dengan membawa solusi. Namun, dalam realitasnya menunjukkan bahwa keterlibatan kader dalam isu-isu sosial masih minim. Banyak kader yang aktif di internal organisasi, tetapi kurang berkontribusi di ruang publik. Kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan bahwa orientasi gerakan masih berputar pada aktivitas internal, seperti rapat, kepanitiaan, dan agenda seremonial, tanpa diimbangi dengan aksi nyata ditengah masyarakat.

Selain itu, kurangnya keberanian kader untuk turun langsung ke masyarakat juga menjadi faktor penghambat. Banyak yang merasa belum siap atau tidak percaya diri untuk terlibat dalam advokasi sosial, padahal proses belajar justru terjadi ketika kader berhadapan langsung dengan realitas. Humanitas bukan hanya tentang empati, tetapi juga keberanian untuk bertindak.

Trikoda sebagai arah gerak dan perjuangan

Trikoda sebagai arah gerak seharusnya menjadi panduan dalam setiap aktivitas kader. Namun seringkali arah gerak ini tidak jelas karena tidak ada strategi konkret untuk menerjemahkannya ke dalam program kerja. Akibatnya, kegiatan yang dilakukan tidak memiliki kesinambungan ideologis. Krisis pemahaman Trilogi dan Trikoda juga dipengaruhi oleh kurangnya keteladanan dari pimpinan. Kader membutuhkan figur yang mampu menunjukkan implementasi nyata dari nilai-nilai tersebut. Jika pimpinan tidak mampu menjadi contoh, maka sulit bagi kader untuk menginternalisasi nilai.

Untuk mengatasi persoalan ini, perlu ada reorientasi dalam sistem perkaderan, khususnya di tingkat komisariat. Diskusi ideologis harus diperkuat, pendekatan praksis harus diperluas, dan evaluasi kader harus lebih menekankan pada perubahan sikap dan tindakan, bukan sekadar kehadiran. Pada akhirnya, Trilogi dan Trikoda bukan hanya pedoman organisasi, tetapi juga kompas moral bagi setiap kader IMM dalam menjalani kehidupan. Kader yang mampu mengintegrasikan keduanya akan menjadi agen perubahan yang tidak hanya kritis, tetapi juga solutif dan berdampak.

Kualitas kader bukan  ditentukan dari seberapa banyaknya konsep yang dipahami, tetapi seberapa konsisten nilai itu diwujudkan dalam setiap tindakanya.