Aku dan DAD: Pengalaman Darul Arqam Dasar IMM
Aku mengikuti Darul Arqam Dasar IMM tanpa banyak persiapan—baik fisik maupun batin. Tasku hanya berisi pakaian seadanya, sementara pikiranku penuh tanda tanya. Aku mendaftar bukan karena keyakinan yang matang, melainkan karena dorongan dari luar.
Hari pertama berjalan datar. Aula dipenuhi peserta dengan wajah asing, namun kegelisahan kami terasa serupa. Materi demi materi tentang Muhammadiyah, IMM, dan Islam berkemajuan disampaikan dengan serius. Aku mendengar dan mencatat, tetapi belum sepenuhnya mengerti apakah proses Darul Arqam Dasar IMM ini benar-benar berarti bagiku.
Jawabannya muncul pada malam berikutnya.
Diskusi kelompok berubah menjadi ruang saling uji gagasan. Ada yang lantang menyuarakan idealisme, ada yang kritis terhadap realitas, dan ada pula yang sinis terhadap peran organisasi. Aku ingin ikut berbicara, tetapi keraguanku menahan lidahku.
Seorang instruktur kemudian berkata,
“Dalam IMM, memilih diam juga sikap. Dan setiap sikap ada tanggung jawabnya.”
Kalimat itu mengusikku. Aku sadar, selama ini aku terlalu nyaman berada di pinggir—tidak menolak, tetapi juga tidak memperjuangkan apa pun.
Refleksi dalam Darul Arqam Dasar IMM
Malam perenungan menjadi momen paling berat selama mengikuti Darul Arqam Dasar IMM. Aula gelap dan sunyi. Dalam keheningan itu, aku dipaksa berdialog dengan diriku sendiri: tentang tujuan kuliah, makna iman, dan keberanian mengambil peran.
Beberapa pertanyaan diajukan instruktur kepadaku, namun aku bingung menjawabnya. Dalam hati muncul rasa takut, bingung, dan bimbang yang bercampur menjadi satu.
Hari terakhir tiba dengan cahaya pagi yang lembut. Aku tidak merasakan euforia, melainkan kesadaran. Ada nilai yang harus dijaga dan arah hidup yang harus dipilih.
Sejak mengikuti Darul Arqam Dasar IMM, aku memahami bahwa proses ini bukan sekadar pelatihan kader. Ia menjadi titik awal perjumpaanku dengan IMM—sebagai ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang mengikatkan diri pada perjuangan.
Namun, DAD bukan hanya tentang materi dan refleksi. Ada canda tawa di setiap momennya. Aku mendapatkan teman baru, pengalaman baru, dan ilmu baru. Bahkan, mungkin kalau beruntung bisa mendapat jodoh di sana—walau itu hanya candaan, karena perjalanan kami masih sangat panjang.
Aku belum menjadi kader yang ideal. Aku masih ragu dan sering keliru. Namun satu hal berubah sejak hari itu: aku tahu ke mana aku akan melangkah, dan kini aku tidak lagi melangkah sendirian.
Farrel Permana Putra
PK IMM Ahmad Dahlan






Leave a Reply