Meneguhkan Trilogi IMM: Menjadi Kader yang Solutif di Era Disrupsi

Meneguhkan Trilogi IMM: Menjadi Kader Solutif di Era Disrupsi

Menjadi bagian dari Darul Arqam Dasar (DAD) bukan sekadar mengikuti rangkaian materi di kelas atau menahan kantuk pada sesi malam. Lebih dari itu, DAD merupakan proses pembentukan diri bagi mahasiswa untuk menemukan jati dirinya. Melalui proses ini, kader belajar memahami nilai perjuangan sekaligus tanggung jawab sebagai bagian dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IMM memikul amanah besar melalui Trilogi IMM, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Namun, pertanyaan penting muncul setelah pengaderan selesai: bagaimana nilai Trilogi IMM diimplementasikan dalam kehidupan nyata?

Religiusitas: Iman yang Bergerak

Selama mengikuti DAD, saya menyadari bahwa religiusitas dalam IMM tidak hanya dimaknai sebagai kesalehan ritual seperti salat atau mengaji. Religiusitas harus menjadi iman yang bergerak dan memberi dampak sosial.

Di tengah krisis moral yang marak di media sosial, kader IMM dituntut hadir sebagai penyejuk. Kader tidak seharusnya ikut dalam kegaduhan digital yang tidak produktif. Sebaliknya, kader harus mampu menghadirkan narasi yang bijak, edukatif, dan solutif bagi masyarakat.

Dengan demikian, religiusitas menjadi landasan moral dalam setiap gerakan kader IMM di era disrupsi.

Intelektualitas: Dari Gagasan Menuju Aksi

Sering kali mahasiswa terjebak dalam menara gading intelektualitas. Mereka mampu berteori, tetapi kesulitan memahami realitas sosial. Padahal, intelektual sejati adalah mereka yang mampu menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata.

Kader IMM dituntut untuk literat dan kritis terhadap kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat. Namun demikian, kritik harus tetap disampaikan secara santun dan argumentatif. Literasi bukan hanya membaca buku, melainkan juga membaca perubahan zaman.

Oleh karena itu, intelektualitas kader IMM harus melahirkan solusi, bukan sekadar diskusi tanpa arah.

Humanitas: Wajah Kemanusiaan Islam

Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dari keberagamaan. Humanitas menjadi wujud nyata dari iman dan intelektualitas yang telah dipelajari.

Setelah DAD, peran kader diuji melalui kepedulian sosial. Seberapa peka kita terhadap persoalan sekitar? Seberapa besar manfaat kehadiran kita di lingkungan kampus?

Gerakan humanitas IMM harus bersifat inklusif dan menyentuh semua kalangan tanpa memandang perbedaan. Dengan begitu, kader IMM mampu menjadi agen perubahan yang membawa kebermanfaatan nyata.

Menjadi Kader IMM Solutif di Era Disrupsi

RTL ini menjadi janji setia saya kepada ikatan. Menjadi kader IMM berarti memilih jalan perjuangan yang tidak biasa. Kader IMM diharapkan menjadi pelangsung, penyempurna, sekaligus pemegang amanah dakwah Muhammadiyah.

Semangat merah marun tidak boleh berhenti pada slogan “Abadi Perjuangan”. Sebaliknya, semangat tersebut harus diwujudkan dalam karya nyata bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Melalui Trilogi IMM, kader diharapkan mampu menjadi pribadi religius, intelektual, dan humanis yang solutif dalam menghadapi tantangan era disrupsi.

Rougest Deandra
PK IMM Ahmad Dahlan