Transisi IPM ke IMM: Melampaui Batas Seragam Sebuah Transisi Intelektual
Transisi IPM ke IMM bagiku bukan sekadar perpindahan organisasi, melainkan perjalanan intelektual yang mengubah cara pandang terhadap dunia. Dahulu, ber-Muhammadiyah terasa identik dengan keriuhan dan semangat kebersamaan.
Di masa SMP dan SMA, IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) menjadi rumah yang penuh perlombaan, kemah bakti, dan yel-yel yang membakar semangat di lapangan sekolah. Kami adalah pasukan berseragam yang bergerak atas komando kegembiraan. Namun, ketika kakiku memijak pelataran universitas dan mengenakan Jas Merah Maroon, segalanya mulai berubah.
Awal Transisi IPM ke IMM
Saat pertama kali mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD), aku mengira atmosfernya akan sama seperti Pelatihan Kader Taruna Melati (PKTM). Ternyata aku salah. Di IMM, keriuhan itu tidak lagi berada di lapangan, tetapi berpindah ke dalam kepala.
Jika di IPM kami belajar berorganisasi dan memimpin barisan, di IMM aku diajak untuk membedah realitas. Diskusi tidak lagi sebatas AD/ART organisasi. Kami mulai membicarakan filsafat, kritik sosial, hingga bagaimana teologi al-Ma’un diterapkan dalam kebijakan publik yang kompleks.
Dialektika sebagai Budaya Intelektual IMM
Perbedaan paling mencolok dalam transisi IPM ke IMM adalah budaya dialektika. Di masa sekolah, arahan senior sering menjadi instruksi yang jarang dipertanyakan. Sebaliknya, di IMM, meja diskusi berubah menjadi ruang pertarungan ide.
Aku masih mengingat sebuah malam di sekretariat yang pengap dengan aroma kopi. Kami berdiskusi hingga fajar mengenai peran mahasiswa sebagai agent of change atau iron stock. Tidak ada yang dianggap paling benar karena usia. Argumentasi yang logis dan berdasar menjadi penentu utama.
Tri Kompetensi Dasar dalam Perjalanan Kader
IMM menuntut kadernya tidak hanya menjadi pribadi religius secara ritual, tetapi juga menjadi intelektual berbasis profetik. Dalam proses ini, aku memahami bahwa Tri Kompetensi Dasar bukan sekadar slogan organisasi.
-
Religiusitas bukan hanya hafalan doa, tetapi pendalaman makna kehidupan.
-
Intelektualitas bukan sekadar nilai IPK, melainkan ketajaman analisis sosial.
-
Humanitas bukan hanya kegiatan bakti sosial, tetapi keberpihakan kepada mereka yang tertindas.
Dari Pelaksana Menjadi Pemikir
Transisi IPM ke IMM menjadi proses pendewasaan bagiku. Perlahan, aku berubah dari seorang pelaksana menjadi seorang pemikir. Kenangan masa SMA tetap penuh warna, tetapi di IMM aku menemukan warna merah yang lebih berani.
Warna itu menantangku untuk tidak sekadar melihat dunia, melainkan ikut mengubahnya melalui gagasan, aksi, dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.
Ita Viola
PK IMM Ar Razy






Leave a Reply