TINTA PENA MERAH
Karya: Loyalis belia dari ujung timur sana

Kilau mentari yang membawa derap kecil
Ingatkan asa dalam kepalan.
Bisik lirih namun cukup terasa,
Akankah semakin erat langkah ataukah berat.
Ribuan tanya, ratusan ingin yang dihalang rintang
Mengantarkanku duduk, terdiam, tak ingin dibersamai beban.
Berharap senja lembut menyapa dan memberi
Kejelasan dalam dekap.
Benar saja,
Dekap senja yang telah enam tahun lebih dulu hadir itu
Seakan memberi rambu, bahwa kau tak lama lagi.
Lalu kemanakah?
Jikalau terlepas, akankah berganti kepalan ini?
Sontak tak terima, pun langkahnya masih terbata,
Bekalnya tak seberapa.
Tetiba terlintas ingat akan goresan yang pernah kuabadikan.
Ahh iya…
Ini akan terus berlanjut, tak perlu takut.
Harapan itu mulai terukir seiring aduan
Menyambur fajar.
Titik yang memang harus dituju kala itu
Seolah jadikan secercah cahaya harap.
Melihat kabar dari Pena Merah yang seakan
Sudah siap bersamai derap ini.
Diri semakin meyakini,
Tuk ikhlas dalam bakti kulanjut dengan
Semangat berapi.
Dan kesempatan itu datang—
Padaku yang bukan seharusnya di depan.
Namun senyum di belakang
Isyaratkan ku tuk lantang bawakan.
Benar, langkah belia yang masih terbata,
Dengan kepalan asta lirih ku katakan:
Abadi Perjuangan!
Qothrunnada Ashfiya
PK IMM KHSR






Leave a Reply