GROBOGAN – Program pemberdayaan perempuan yang diinisiasi oleh PPK Ormawa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang kini memasuki tahap penerapan praktis. Melalui “Sekolah Perempuan Plus 2025” di Desa Kandangrejo, Grobogan, para peserta mulai mempraktikkan keterampilan yang mereka pilih, Sabtu (27/09/2025).
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan desa. Para peserta yang sebelumnya telah memilih minat, kini dibagi menjadi dua kelompok praktik utama: tata rias dan pengolahan bawang merah.

Baca Juga :
- Rangkaian Sekolah Perempuan Plus Terus Berlanjut, Perempuan Kandangrejo Belajar memakai Blush on dan juga Catwalk
- Dari Pola Arab hingga India, Perempuan Desa Kandangrejo Belajar Merias dengan Henna
- Belajar Styling dan Mix & Match, Ibu-Ibu Kandangrejo Ikuti Sekolah Perempuan Plus 2025
Praktik Langsung Sesuai Minat
Tim pelaksana PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan menggelar dua sesi praktik yang berbeda secara paralel untuk memaksimalkan proses belajar:
-
- Bidang Tata Rias: Peserta mengikuti sesi dengan tema “Make-up Acara Ceremonial”. Mereka belajar dan mempraktikkan secara langsung teknik merias wajah untuk kegiatan resmi seperti wisuda, pernikahan (manten), dan acara formal lainnya.
- Bidang Olahan Pangan: Peserta fokus pada praktik produksi bawang goreng. Mereka terjun langsung dari proses penggorengan hingga tahap pengemasan (packaging) produk agar siap jual dan memiliki nilai ekonomi.
Menuju Kemandirian Ekonomi
Ketua Tim Pelaksana, Reffi, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah krusial untuk mengubah teori menjadi praktik nyata. Menurutnya, ini adalah inti dari program pemberdayaan perempuan yang mereka jalankan.
“Kami ingin peserta benar-benar menerapkan ilmu yang sudah didapat, bukan hanya teori. Baik bidang tata rias maupun pengolahan bawang merah, keduanya punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi usaha mandiri,” jelas Reffi.
Antusiasme peserta terlihat jelas, salah satunya dari Bu Umiyati, peserta di bidang pengolahan bawang merah. Ia mengaku mendapat wawasan baru yang memotivasinya untuk berwirausaha.
“Saya baru tahu ternyata proses pengemasan yang rapi bisa membuat bawang goreng terlihat lebih menarik dan bisa dijual di toko. Jadi semangat sekali rasanya, ingin terus belajar biar bisa punya usaha sendiri,” tutur Bu Umiyati.

Program Sekolah Perempuan Plus 2025 ini tidak hanya membekali perempuan Desa Kandangrejo dengan keterampilan teknis. Mereka juga mendapatkan pengetahuan kewirausahaan dan manajemen usaha.
Melalui bekal tersebut, program pemberdayaan perempuan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi keluarga sekaligus memperkuat peran aktif perempuan desa dalam pembangunan lokal.





Leave a Reply