Wujud Nyata Pemberdayaan Perempuan: Ibu-Ibu di Grobogan Bertransformasi dari Teori ke Aksi Ekonomi Produktif

Pemberdayaan Perempuan di Grobogan: Ibu-Ibu Desa Ciptakan UMKM

GROBOGAN – Program pemberdayaan perempuan di Desa Kandangrejo, Grobogan, kini bukan lagi sekadar wacana. Melalui “Sekolah Perempuan Plus 2025”, para perempuan desa telah bergerak dari fase belajar teori menuju aksi nyata untuk meraih kemandirian ekonomi.

Inisiatif yang didorong oleh tim PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) ini telah memasuki tahap “Pembekalan Minat Part 4” pada Minggu (5/10/2025). Fokusnya jelas: mengubah keterampilan menjadi sumber penghasilan.

Pemberdayaan Perempuan di Sekolah Perempuan 2025

Program pemberdayaan ini diwujudkan melalui dua pilar utama yang kini mulai menunjukkan hasil konkret:

1. Pemberdayaan Ekonomi Melalui Produksi UMKM

Kelompok yang fokus pada olahan bawang merah kini telah naik kelas. Mereka tidak lagi hanya mencoba resep, tetapi sudah memulai produksi massal skala rumahan yang siap dipasarkan.

Tim Bawang Merah sekolah perempuan dalam pemberdayaan perempuan

Para peserta dibimbing secara intensif untuk menciptakan produk bernilai jual, seperti bawang goreng original, stik bawang, pangsit bawang, dan varian baru andalan, yakni bawang goreng daun jeruk. Proses ini menekankan pentingnya standar produksi, pengemasan yang menarik, dan kontrol kualitas agar produk UMKM desa ini mampu bersaing di pasar.

2. Pemberdayaan Diri Melalui Keterampilan Jasa

Di sisi lain, tim keterampilan tata rias juga mempraktikkan ilmu mereka secara langsung. Sebagai langkah awal untuk membangun portofolio dan kepercayaan diri, mereka menjadikan anak-anak mereka sendiri sebagai model.

Kegiatan ini dirancang untuk memberdayakan para peserta secara personal dan profesional, melatih mereka menghadapi klien dan membangun mental sebagai penyedia jasa tata rias di masa depan.

Baca juga:

Dari Pelatihan Menuju Kemandirian

Ketua Tim Pelaksana, Reffi Naufal, menjelaskan bahwa tahap ini adalah inti dari program pemberdayaan tersebut.

“Kami ingin peserta benar-benar menerapkan ilmunya. Tahap ini adalah wujud nyata bagaimana pelatihan bisa bertransformasi menjadi aktivitas produktif yang berpotensi ekonomi,” jelas Reffi.

Semangat pemberdayaan ini dirasakan langsung oleh peserta. Ibu Yunanik dari tim olahan bawang merah, mengaku bangga. “Saya senang sekali bisa membuat produk sendiri yang enak dan bisa dikemas menarik. Saya jadi ingin menjualnya di warung dan online,” tuturnya.

Begitu pula Ibu Listyowati dari tim tata rias. “Awalnya gugup, tapi setelah dicoba merias anak sendiri, hasilnya memuaskan. Ini langkah awal yang baik,” ujarnya.

Program Sekolah Perempuan Plus 2025 ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan yang sesungguhnya adalah ketika pelatihan kewirausahaan berkelanjutan mampu mengubah peserta menjadi individu yang mandiri, kreatif, dan berdaya secara ekonomi.