Ketika Nyaman Tak Lagi Cukup

Ketika Nyaman Tak Lagi Cukup

Semester tiga datang tanpa seremoni. Ardi tidak lagi canggung seperti mahasiswa baru, tetapi juga belum cukup percaya diri untuk merasa mapan. IPK-nya aman, organisasi masih sebatas nama di KRS, dan hidup kampus berjalan datar: kuliah, tugas, pulang.

Tidak buruk, tetapi juga tidak benar-benar berarti. Ia mulai gelisah ketika menyadari satu hal sederhana — ia sibuk, tetapi tidak tahu untuk apa.

Semester Tiga dan Kegelisahan Mahasiswa

Suatu sore, hujan mengguyur halaman kampus. Ardi berteduh di selasar fakultas ketika melihat sekelompok mahasiswa berdiskusi serius. Mereka tidak ribut dan tidak mencari perhatian.

Di tengah lingkaran itu terdapat papan kecil bertuliskan tiga kata: Keislaman, Kemahasiswaan, Kemasyarakatan. Ardi pernah mendengarnya sekilas, lalu melupakannya.

IMM.

Karena rasa ingin tahu, ia duduk di pinggir diskusi. Tidak ada yang mengusir. Seorang pemateri berbicara tenang tanpa menggurui.

“Semester awal adalah fase bertahan,” katanya. “Semester tiga adalah fase menentukan arah.”

Kalimat itu menghantam Ardi lebih keras daripada suara hujan.

Mengenal Trilogi IMM

Diskusi malam itu tidak membahas organisasi sebagai kebanggaan. Sebaliknya, IMM dijelaskan sebagai tanggung jawab nilai. Iman harus hadir dalam nalar, bukan hanya ritual.

Mahasiswa tidak cukup sekadar lulus, tetapi harus berpikir. Masyarakat tidak hanya dikasihani, melainkan diperjuangkan.

Sejak saat itu, perjalanan kader IMM mulai Ardi rasakan.

Ia mengikuti kajian yang bukan hanya menenangkan, tetapi juga menggugah. Kajian tersebut mempertanyakan cara beragama yang pasif, cara belajar yang penurut, serta cara hidup yang terlalu aman.

Ardi mulai memahami bahwa keislaman bukan pelarian dari realitas, melainkan sumber keberanian untuk menghadapinya.

Perubahan dalam Dunia Kampus

Di kelas, Ardi berubah. Ia membaca sebelum dosen menjelaskan dan mulai mengajukan pertanyaan kritis. Beberapa teman menganggapnya terlalu idealis.

Namun, ia menyadari bahwa kemahasiswaan memang menuntut risiko. Tidak selalu nyaman, tidak selalu disukai, tetapi tetap jujur pada akal dan nilai.

Perjalanan kader IMM membuatnya melihat kampus bukan hanya ruang akademik, melainkan ruang pembentukan karakter.

Turun ke Masyarakat: Ujian Sebenarnya

Ujian sesungguhnya datang ketika IMM mengajaknya turun ke lapangan. Sebuah kampung kota terancam penggusuran atas nama pembangunan. Data tersedia, surat lengkap, tetapi suara warga hampir tidak terdengar.

Ardi ikut mendata dan mendengar langsung cerita masyarakat. Ia melihat bagaimana kebijakan tampak rapi di atas kertas, tetapi terasa keras dalam kehidupan nyata.

Malam itu ia sulit tidur. Ia sadar bahwa kemasyarakatan bukan sekadar kegiatan sukarela, melainkan panggilan moral.

Memahami Makna Trilogi IMM

Dalam rapat internal terjadi perdebatan. Ada yang ingin aksi besar, ada pula yang memilih langkah aman. Seorang senior berkata tegas,

“IMM tidak lahir untuk menjadi penonton sejarah, tetapi juga bukan pembakar emosi. Kita bergerak dengan akal dan nilai.”

Saat itu Ardi memahami sesuatu yang penting. Trilogi IMM bukan pilihan terpisah, melainkan satu kesatuan:

  • iman tanpa nalar melahirkan fanatisme,

  • nalar tanpa kepedulian melahirkan elitisme,

  • kepedulian tanpa nilai melahirkan kelelahan.

Ketika Arah Hidup Mulai Ditemukan

Semester tiga tidak menjadikan Ardi tokoh terkenal. Ia tidak viral dan tidak dielu-elukan. Namun arah hidupnya berubah.

Kini ia memahami bahwa:

  • kuliah bukan sekadar mengejar kelulusan,

  • organisasi bukan sekadar sertifikat,

  • dan IMM bukan tempat mencari identitas instan, melainkan ruang menempa tanggung jawab.

Suatu sore, hujan kembali turun di kampus. Ardi berdiri di selasar yang sama sambil melihat mahasiswa baru lalu-lalang dengan wajah bingung yang dulu pernah ia miliki.

Di tangannya terdapat papan kecil bertuliskan tiga kata yang kini terasa hidup.

Semester tiga memang belum jauh. Namun kompas itu sudah menyala.

Syaeful Al Ma’ruf
PK IMM Ahmad Dahlan