IMM di Persimpangan Jalan: Kritik atas Elitisasi, Pragmatisme, dan Krisis
Keberpihakan
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sejak awal kelahirannya diproyeksikan sebagai organisasi kader yang berwatak intelektual, kritis, dan berpihak pada kepentingan umat. Tri Kompetensi Dasar IMM yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas menjadi fondasi ideologis yang menempatkan IMM bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis dan keberanian moral. Dalam realitas hari ini, IMM justru berada di persimpangan jalan antara tetap setia pada cita-cita ideologisnya atau tergelincir dalam arus pragmatisme dan elitisasi kekuasaan.
Salah satu kritik mendasar yang mengemuka adalah semakin eratnya relasi sebagian pimpinan IMM dengan elit kekuasaan. Kedekatan ini sering kali dibingkai sebagai strategi akses dan perluasan jejaring, tetapi dalam praktiknya justru menimbulkan pertanyaan yang tidak bisa dihindari, “Masihkah IMM berdiri sebagai kekuatan moral yang independen, atau justru telah direduksi menjadi jembatan karier segelintir elite kader?”. Organisasi yang seharusnya menjaga jarak kritis dengan kekuasaan justru kerap terlihat akomodatif, bahkan kompromistis, terhadap kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat. Sikap kritis yang dulu lantang kini kerap melemah, digantikan oleh bahasa diplomatis yang kehilangan daya gugah.
Elitisasi dalam tubuh IMM juga menjadi persoalan serius. Proses kaderisasi yang semestinya melahirkan kader ideologis dan berkesadaran struktural, dalam banyak kasus justru menghasilkan hierarki eksklusif. Akses terhadap ruang pengambilan keputusan sering kali hanya berputar di lingkaran sempit, sementara kader di akar rumput diposisikan sebatas pelengkap struktural. Dampaknya bukan hanya pada renggangnya hubungan pimpinan dan basis, tetapi juga pada matinya ruang dialektika dalam organisasi. Ketika kritik internal dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai energi pembaruan organisasi, dinamika internal perlahan kehilangan daya geraknya. Pada titik ini, organisasi tidak lagi bergerak sebagai ruang kolektif kader, melainkan sebagai struktur yang menjaga dirinya sendiri.
Lebih jauh, IMM juga menghadapi krisis keberpihakan. Dalam berbagai isu strategis seperti ketimpangan sosial, perampasan ruang hidup, komersialisasi pendidikan, hingga dinamika demokrasi, posisi IMM sering kali tampak ambigu. Pernyataan sikap normatif tanpa aksi nyata, atau aksi simbolik tanpa keberlanjutan, menunjukkan adanya kelelahan ideologis. IMM seolah kehilangan keberanian untuk mengambil posisi tegas, takut dianggap berseberangan dengan kekuasaan atau merusak relasi yang telah dibangun. Gerakan mahasiswa memperoleh makna historisnya ketika keberanian lebih diutamakan daripada kenyamanan.
Situasi ini semakin rumit ketika pragmatisme mulai mendominasi orientasi organisasi. IMM tidak jarang direduksi menjadi ruang formalitas kegiatan dan administrasi, miskin gagasan dan minim praksis sosial. Diskursus keilmuan terjebak pada seminar seremonial, sementara kerja-kerja advokasi masyarakat semakin terpinggirkan. IMM berisiko kehilangan relevansi sosialnya ketika lebih sibuk mengurus agenda internal ketimbang membaca denyut persoalan umat dan bangsa. Organisasi kader tanpa keberpihakan yang jelas hanya akan menjadi institusi kosong yang kehilangan makna historisnya.
Namun, kritik ini tidak dimaksudkan untuk menafikan seluruh capaian IMM. Di banyak daerah, masih terdapat kader dan pimpinan yang konsisten menjaga marwah organisasi, berani bersikap kritis, dan setia pada kerja-kerja pemberdayaan. Justru dari titik inilah kritik harus dipahami sebagai bentuk cinta ideologis, bukan pembusukan organisasi. IMM perlu melakukan refleksi kolektif: menata ulang orientasi gerakan, mengembalikan kaderisasi pada substansi ideologis, serta menegaskan kembali posisi sebagai kekuatan moral yang independen dari kepentingan kekuasaan.
IMM seharusnya kembali menjadi rumah bagi kader yang berani berpikir merdeka, bersuara lantang, dan berdiri di pihak yang lemah. Bukan organisasi yang sibuk mengantarkan kadernya ke kursi-kursi elite, tetapi gerakan yang setia mendampingi rakyat dalam sunyi. Jika IMM gagal melakukan koreksi diri, maka ia berisiko menjadi artefak sejarah yang pernah besar, namun kehilangan ruh. Sebaliknya, dengan keberanian melakukan otokritik dan konsistensi ideologis, IMM masih memiliki peluang untuk kembali meneguhkan perannya sebagai gerakan mahasiswa Islam yang progresif, kritis, dan berkeadilan. Kegelisahan ini lahir bukan dari jarak, tetapi dari keterlibatan sebagai bagian dari IMM itu sendiri.
Muhammad Shodiq
PK IMM Asy-Syifa






Leave a Reply