Cahaya di Jendela Lantai Tujuh adalah cerita inspiratif kader IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) tentang perjuangan menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan organisasi. Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa belajar membangun sinergi antara dunia kampus dan pergerakan kaderisasi.
Angin Semarang sore itu terasa lebih gerah dari biasanya, membawa aroma aspal panas yang menyeruak hingga ke koridor Gedung Kuliah Bersama (GKB) 2. Di sebuah sudut bangku panjang, seorang mahasiswa bernama Aris termenung menatap layar laptopnya. Di layar itu, draf laporan pertanggungjawaban organisasi bersaing ketat dengan tab tugas akhir yang belum tersentuh sejak pagi.
Sebagai kader di Pimpinan Komisariat IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang, Aris sering kali merasa dunianya terbelah. Di satu sisi, ada gairah luar biasa saat ia membahas strategi harmonisasi gerak bersama kawan-kawannya di lantai tujuh. Di sisi lain, ada bayang-bayang ekspektasi orang tua yang menantinya pulang dengan toga.
Perjalanan Seorang Kader IMM Ahmad Dahlan
“Ris, belum pulang?” suara berat itu mengagetkannya.
Aris mendongak. Di depannya berdiri seorang pria berkacamata dengan senyum teduh yang sangat ia kenal—Dekan FTIK, sosok yang selalu menekankan pentingnya diaspora kader di berbagai lini kehidupan kampus.
“Masih merapikan draf audiensi untuk besok, Pak,” jawab Aris sopan sembari menutup sebagian layar laptopnya yang menampilkan barisan kode pemrograman yang berantakan.
Sang Dekan duduk di sampingnya, mengabaikan jarak protokoler sejenak.
“Kamu tahu, Aris? Menjadi kader IMM itu seperti menjadi jembatan. Jembatan harus kuat agar orang bisa menyeberang di atasnya. Jika kamu hanya sibuk dengan organisasi tapi abai dengan studi, jembatan itu akan rapuh.”
Kalimat itu menohok Aris.
Ia teringat niatnya untuk membangun sinergi berkemajuan di lingkungan IMM Ahmad Dahlan UNIMUS, bukan hanya dalam organisasi tetapi juga dalam prestasi akademik.
Baca Juga : Bangun Sinergi Berkemajuan, IMM Ahmad Dahlan dan Dekanat FTIK Sepakati Kolaborasi Strategis
Sinergi Akademik dan Organisasi di IMM UNIMUS
Ia juga teringat janji fakultas yang membuka peluang besar bagi kader aktif untuk berkembang menjadi asisten laboratorium, admin akademik, bahkan dosen di masa depan apabila mampu menyelesaikan studi dengan baik.
“Kami di dekanat bukan musuh kalian,” lanjut sang Dekan pelan.
“Kami adalah mitra. Jika ingin bergerak harmonis, selaraskan tanggung jawabmu sebagai mahasiswa dan amanahmu sebagai aktivis.”
Sore itu, di bawah temaram lampu GKB 2, Aris mendapatkan pelajaran penting. Audiensi besok bukan sekadar pertemuan formal memperkenalkan struktur baru PK IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang.
Bagi Aris, itu adalah pembuktian bahwa kader IMM adalah insan yang utuh—mampu berdiskusi kritis tentang arah organisasi sekaligus tekun mengejar prestasi akademik.
Cahaya dari Lantai Tujuh
Ketika adzan maghrib berkumandang dari masjid kampus, Aris menutup laptopnya dengan mantap. Ia tahu apa yang harus dilakukan.
Besok, ia akan berdiri di ruang dekan bukan hanya sebagai pembawa proposal, tetapi sebagai kader IMM Ahmad Dahlan UNIMUS yang siap bersinergi demi kemajuan bersama.
Di lantai tujuh itu, ia akhirnya memahami satu hal:
bahwa menjadi kader bukan tentang memilih antara organisasi atau akademik, melainkan tentang menyalakan cahaya keduanya secara seimbang.
Penulis: Bidang Medkom Feraa
PK IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang






Leave a Reply