Api Kecil di Ruang Kaderisasi: Refleksi Perjalanan Kaderisasi IMM
Kaderisasi IMM bukan sekadar kegiatan organisasi mahasiswa. Proses ini adalah perjalanan menemukan makna perjuangan, nilai keislaman, dan kepedulian sosial dalam kehidupan kampus.
Malam itu hujan turun pelan di halaman kampus. Lampu ruang kader masih menyala dan memantul di lantai keramik yang dingin. Di dalam ruangan, belasan mahasiswa duduk melingkar. Sebagian terlihat lelah, sebagian lagi menatap kosong ke depan.
Aku termasuk di antaranya—seorang mahasiswa baru yang belum benar-benar paham mengapa memilih bertahan dalam kaderisasi IMM.
“Saudara-saudara,” suara Kak AL memecah keheningan. “IMM bukan tempat singgah. Ini rumah perjuangan.”
Kata perjuangan terdengar berat. Di kepalaku hanya ada tugas kuliah, organisasi yang menyita waktu, dan rasa lelah yang menumpuk. Aku pun bertanya dalam hati: mengapa harus berjuang?
Proses Panjang dalam Kaderisasi IMM
Hari-hari kaderisasi tidak selalu mudah. Kami bangun pagi untuk shalat berjamaah, mengikuti diskusi panjang tentang Islam dan Muhammadiyah, hingga menjalani evaluasi diri setiap malam.
Suatu malam aku hampir menyerah. Duduk di tangga gedung fakultas, aku berkata kepada Farel, teman seperjuangan:
“Mungkin aku bukan orang yang tepat di sini.”
Farel tersenyum tipis.
“Aku juga pernah berpikir begitu. Tapi kalau kita pergi sekarang, siapa yang akan meneruskan api ini?”
Kata api terus terngiang di kepalaku.
Belajar Keberpihakan melalui Pengabdian
Suatu sore, kami turun ke kampung pinggir kota. Rumah-rumah sempit berdiri berdempetan. Anak-anak bermain tanpa alas kaki, sementara ibu-ibu menyambut kami dengan senyum tulus.
Kami mengajar, membersihkan mushala, dan mendengarkan cerita mereka. Di sanalah aku mulai memahami bahwa kaderisasi IMM bukan hanya forum dan materi, tetapi tentang keberpihakan kepada masyarakat.
Kaderisasi mengajarkan bahwa ilmu harus hadir bersama empati.
Api Kecil dari Darul Arqam Dasar
Malam terakhir Darul Arqam Dasar terasa berbeda. Kami duduk dalam lingkaran yang sama seperti malam pertama.
Kak AL menatap kami satu per satu.
“Kalian mungkin belum hebat,” katanya pelan, “tetapi hari ini kalian membawa api kecil. Tugas kalian adalah menjaganya agar suatu hari mampu menerangi banyak orang.”
Saat itu aku merasakan sesuatu yang berubah. Bukan lagi rasa lelah, melainkan keyakinan.
Menemukan Makna Bertahan
Kini ruang kader itu masih sama. Hujan masih sering turun di halaman kampus. Namun aku tak lagi bertanya mengapa harus bertahan.
Aku mulai memahami bahwa kaderisasi IMM adalah tempat belajar menjadi manusia yang berilmu, beriman, dan peduli terhadap sesama.
Api kecil itu kini tetap menyala.
Rizal Dwianto
PK IMM Ahmad Dahlan






Leave a Reply